Sex dan Cerita Kita

Baru-baru ini saya mendapat satu pernyataan dari seorang pengarang, ketika saya mengeritik satu bab panas dalam novelnya. Dia menganjurkan saya untuk melihat sebuah karyanya  secara utuh. Setelah tuntas membaca, bukan hanya kesan saya pada bab itu saja. 

     Saya sempat termenung. Sempat ada reflek untuk  menolak pernyataan tsb, ttp saya merasa berkewajiban utk merenungkannya dulu, mengkajinya, meski saya bukan divisi litbang dan kritik FLP, hehehe.

     Perenungan itu perlu. Sempat pula saya mendiskusikan soal ini kepada beberapa orang. Lebih sebagai pemenuhan kewajiban moral. Upaya obyektif. Berkata utk apa. Menolak utk apa. Apakah utk sebuah pembenaran, atau memang menegakkan kebenaran yang kita yakini terhadap suatu hal. Hawa nafsu seringkali mendorong kita utk bertindak reflek melakukan pembenaran, ketimbang yang kedua. Saya tidak mau ini terjadi pada saya.

     Benarkah sebuah karya harus selalu dilihat secara utuh, dan tidak bisa perbagian?
Sebuah novel yang bagus, tapi di dalam salah satu bab-nya ada adegan erotis. Bagaimana FLP akan menilai ini? Bisakah Majelis Penulis di FLP melihatnya secara keseluruhan, kemudian berkata: jika pada konteks yang tepat, dan dilihat keseluruhannya, adegan itu menjadi boleh adanya. Kenapa ini saya ajukan, karena FLP harus mulai memikirkan batasan ini, seperti yang sempat kita bahas dalam MUNAS yl. Agar kita sama2 punya pegangan, landasan dalam menilai.

     Atau bolehkah kita menyukai satu naskah, tp memberi catatan pada Bab tertentu? apakah ini akan tidak adil, karena tidak melihatnya sebagai satu bentuk menyeluruh?

     Dulu saya sempat mendengar artis-artis panas kita berkomentar, adegan panas itu bersedia mereka lakukan, karena memang perlu dan sesuai dengan tuntutan cerita. Beberapa sutradara juga sempat melontarkan kalimat serupa. Seks dalam film sah, jika tidak mengada-ada, jika memang cerita menuntut demikian, jika memang harus. Bahkan Aaron Spelling (eh ini benar gak ya spellnya) dalam E entertaintment sempat berkata: Bukan seks yang harus dikhawatirkan, tapi perang. Mudah2an saya gak salah ingat orang yang mengatakan ini.

     Bagaimana adegan erotis atau vulgar atau seks menjadi boleh? benarkah batasan yang disampaikan di atas? yang lebih kurang mendorong acuan pendapat teman saya tadi, bahwa semuanya harus dilihat keseluruhan, dan bukan peradegan.

     Sebelum novelnya terbit, kami sempat berdiskusi soal ini. Saya yakin teman saya tsb adalah orang yang jujur dengan kata hatinya. Sehingga pasti dia punya alasan kuat utk tetap tidak mengubah adegan di bab hot tsb, dengan dalih di atas. ketika novelnya terbit.
     Hanya saja saya masih terus memikirkan soal ini. ada beberapa pencerahan saya dapatkan dari bbrp orang:

Sesungguhnya setiap editor akan melihat naskah perbagian.
Sesungguhnya setiap kritikus sastra juga akan menyoroti naskah, bagian demi bagian, adegan demi adegan, bahkan tak jarang kata demi kata.

     Sebuah buku disebut bagus, dengan bbrp catatan itu biasa. Bagus, tp di bagian ini kurang begini, bagian ini kurang begini. Demikian juga yang sempat saya dengar dari L. S Chudori ketika mengomentari novel akmal. "hampir tiap bab membangkitkan hasrat kita utk membacanya terus. kecuali beberapa bab yang biasa." lebih kurang begitu kutipannya. maaf kalau tidak sempurna. komen ini menunjukkan beliau menyoroti dan memilah novel imperia secara bagian demi bagian, menilai perbagian sebelum sampai pada kesimpulan keseluruhan.

     Nah, lantas,   pada kondisi bagaimanakah adegan vulgar atau seks itu menjadi sah? benarkah harus dilihat pada konteks keseluruhan novel/cerita? apakah masih berlaku?

     Betapapun saya tetap pada pendapat   penulis adalah yang paling berkuasa dalam menentukan tidak hanya apa yang mau ditulis, termasuk bagaimana dia menuliskannya. Saya yakin kita bisa menulis apa saja. termasuk seks. Tapi BAGAIMANA  kita menuliskannya, dengan cara atau bentuk seperti apa, menggunakan metafor dan kreativitas lain, sepenuhnya adalah PILIHAN seorang penulis. Dan semua penulis, bisa memilih cara yang lebih baik, yang tidak mendorong pembaca untuk salah persepsi, atau terbawa kesan erotis dll. masalahnya adalah apakah sebagai penulis, kita  mau  atau tidak.
 
(Asma Anadia)
Google